Untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan organisasi, perlu banyak strategi, taktik, dan cara-cara yang perlu dilakukan. Terkadang upaya-upaya itu justru mengaburkan pandangan pelaku organisasi sehingga terjebak dalam kondisi yang justru menjauhkannya dari tujuan awal.

AbednegoKami sempat berbincang dengan Abednego Tarigan, Direktur Eksekutif Nasional WALHI, dirinya mengatakan bahwa fenomena yang menjangkit saat ini dalam dunia Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) adalah persoalan “Split personality”. Pria yang dulunya aktif dalam LSM Sawit Watch ini menuturkan, fenomena itu terjadi akibat dari kebingungan para pelaku OMS menghubungkan identitas organisasi dengan peluang-peluang finansial yang ada.

“Maksudnya di sini, seluruh dokumen organisasi itu sangat movement. Tapi realisasinya, proyek-proyek yang ada itu tidak sama dengan bahasa organisasi yang sangat movement tadi. Kemudian bagaimana menerjemahkan dari bahasa organisasi tadi, dikaitkan dengan bahasa-bahasa yang project oriented itu? Tidak semua organisasi itu bisa efektif melakukannya”, ujarnya.

Dalam situasi itu, terkadang OMS bisa terjebak dalam rayuan proyek-proyek yang tersedia, sehingga terkesan project oriented dan kehilangan arah gerak organisasi. Abed Nego berpendapat, bahwa sebenarnya hal itu bisa dicegah dengan adanya mekanisme organisasi. Dengan harapan, terjadi kesepakatan di dalam menerjemahkan situasi tersebut. “Di Walhi, setelah ada pertemuan nasional, itu ada yang namanya Renstra. Semuanya hadir, bukan lagi anggota, tetapi pengurus daerah, pengurus nasional, dewan daerah, dewan nasional, dan didukung beberapa pakar. Ini dilakukan untuk menerjemahkan hal-hal itu tadi,” katanya.

“Belum lagi soal kalimatisasi”, Abednego menambahkan, terkadang Bahasa Indonesia mempunyai arti yang ambigu dibanding Bahasa Inggris yang maknanya lebih spesifik. “Misalnya kayak gini deh, kalangan LSM itu kan paling anti yang namanya “pembangunan”, karena pada zaman Orde Baru identik dengan “penggusuran”. Padahal tema-tema yang beredar itu sustainable development, terus gimana bikin kalimatnya?”, imbuhnya.

Hal-hal teknis seperti itu memang terkadang membuat kekeliruan dalam menerjemahkan konteks pendonoran. Lelaki keturunan Batak ini mengatakan, kegagalan membaca ruang, peluang, dan dinamika itu yang akhirnya gagal ditransformasikan ke dalam proposal-proposal program. “Ya akhirnya dana tidak masuk juga kan?”, tambahnya.

“Ada lagi, soal kepemimpinan”, lanjutnya. Tak jarang ritme dan arah gerak organisasi mengikuti style pribadi pemimpinnya. “Saya sering ingatkan direktur-direktur daerah, bahwa kita ini lembaga advokasi dan kampanye. Ya kalo begitu harus banyak ngomong di publik. Kalo kamu bikin penelitian terus gimana? Pindah aja ke lembaga riset,” ujarnya.

Nature organisasi memang harus dipahami dengan baik oleh orang-orang di dalamnya, terlebih lagi bagi pemimpin. “Hal-hal seperti itu memang tidak ter-eksplisit di dalam dokumen organisasi, tetapi bagaimana kita memahaminya,” simpulnya. (KAN)