Sebuah perubahan akan selalu menjadi keniscayaan di dalam kehidupan manusia. Untuk bisa bertahan hidup, manusia juga perlu suatu perubahan. Seperti kutipan Charles Darwin, “It is not the strongest of the species that survive, nor the most intelligent, but the one most responsive to change”.

Dalam organisasi nirlaba, salah satu permasalahan yang banyak dihadapi adalah persoalan dana, dan tentu akan berpengaruh pada cara bertahan hidup organisasi itu. Aspek pendanaan menyentuh semua hal dalam ruang gerak organisasi.

BudiBudi Santosa, pria yang aktif dalam lembaga Indonesian Business Council for Sustainable Development mengatakan, “tidak akan pernah ada satu tujuan yang bisa dicapai tanpa adanya dukungan dana. Jadi dana itu memang yang paling utama”. Oleh karenanya, setiap organisasi nirlaba harus mempunyai kapasitas dan kapabilitas untuk menggalang dana. Namun, sebelumnya ada hal-hal dasar yang harus dimiliki setelah organisasi didirikan”.

Pria yang berpengalaman memimpin lebih dari 100 orang sales dan merekrut 2000-an donatur individu dalam sebulan ini mengatakan, “prosesnya akan panjang dari awal, bagaimana kita menetapkan atau mencari nilai-nilai dari organisasi tersebut, visi, misi, dan lainnya. Kemudian baru kita bisa menentukan bagaimana kita bisa menggalang dana”.

Organisasi nirlaba mempunyai empat sumber dana yang sebetulnya potensial untuk dijadikan mitra kerja sama: donor, individu, perusahaan atau private sector, dan instansi pemerintahan. Permasalahannya saat ini, banyak organisasi yang belum bisa memanfaatkan peluang dari ke empat sektor yang ada. “Kebanyakan organisasi masyarakat itu kan alergi terhadap government dan private sector. Dengan private sector itu, permasalahannya ada gap komunikasi. Kalau dengan pemerintah, aku rasa problem-nya mungkin selama ini tidak adanya transparansi. Selama ini justru pemerintah menjadi target advokasi dari organisasi masyarakat” tutur pria yang sempat menjadi Fund Raising Manager Greenpeace Asia Tenggara.

Dari permasalahan tersebut, sebuah organisasi masyarakat dituntut untuk dinamis dan beradaptasi dengan situasi yang berkembang, tanpa harus meninggalkan nilai yang tertanam di organisasinya. Budi Santosa menyebutkan, setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan oleh organisasi masyarakat.

  1. Organisasi masyarakat harus mengerti dinamika paradigma yang berkembang saat ini.
  2. Mengidentifikasi SDM yang ada untuk mengimplementasikan peluang-peluang pendanaan yang ada. “Nah, penggalangan dana itu kan kulturnya sedikit beda. Kita perlu orang-orang yang mempunyai kemampuan komunikasi dan lobby yang kuat dan bagaimana organisasi masyarakat mem-blend dirinya dengan kultur corporate”, tambahnya.
  3. Leadership-nya. Sama kayak negara ini, mau diapain kan tergantung leader-nya. Kita gak cukup cuman ngomong aja, berdiskusi, berdebat, itu gak bisa. Harus ada leadership yang memberikan satu perubahan yang bisa dilihat oleh orang-orang di dalam organisasi tersebut, sehingga organisasi bisa berubah,” tutupnya. (KAN)