Tata kelola dan tata laksana organisasi merupakan salah satu aspek yang perlu dibangun dalam sebuah organisasi, termasuk juga organisasi nirlaba. Tata kelola dan tata laksana merupakan aturan main yang dijadikan pedoman dalam gerak organisasi. Karenanya, hal itu menjadi unsur penting yang harus diperhatikan dalam organisasi.

AbednegoSiang itu kami berkesempatan untuk mewawancarai Abednego Tarigan (Direktur Eksekutif Nasional WALHI) di kantornya, Tegal Parang, Jakarta Selatan. Wawancara berlangsung santai, namun cukup terfokus pada persoalan-persoalan yang ada pada NGO (Non-Government Organization). Salah satunya adalah soal nilai “ideal” dari tata kelola dan tata laksana organisasi. Berikut beberapa petikan percakapan kami dengan Direktur WALHI periode 2012-2016 ini.

Menurut Bang Abed, organisasi yang ideal itu gimana?

Kalo ideal sih gak ada ya, sesuai dengan kebutuhan aja..

Yang pertama, organisasi itu tidak sulit menerjemahkan visi dan misinya. Sering sekali kita dihadapkan pada visi dan misi organisasi yang kita sendiri tidak mengerti bagaimana menterjemahkannya.

Kedua, organisasi itu sadar bahwa dalam tiap langkahnya itu punya misi. Misi menjadi penting, kadang-kadang orang banyak bergerak dengan nilai idealismenya tanpa adanya misi yang jelas. Kalau seperti itu bisa menjadi fundamentalis.

Ketiga, menurutnya saya, menyadari kapasitas yang ada tanpa menutup perkembangan kapasitas. Jadi, jangan membuat visi misi yang tidak kontekstual, terus tidak sadar kapasitas. Maunya banyak, terus tidak ada kapasitasnya. Saya mengalami, pusing lho.., akhirnya kan jadi over load. Karena itu sering sekali orang yang bagus jadi check out.

Selanjutnya, tentu aspek-aspek di internal yang sifatnya itu soal transparansi. Itu menjadi  penting menurut saya. Kemudian bagaimana menujukkan akuntabilitas itu. Saya bermimpi di WALHI ini setiap tahun bikin laporan publik di media massa. Tapi masih belum, masih perlu proses lebih lanjut. Satu hal tentang transparan ini adalah manajemen keterbukaan di internal yang menjadi penting. Mulai akuntabel dan transparan itu di internal dulu, jangan buru-buru bicara ke luar.

Selain itu adakah prinsip atau aspek lain yang harus dimiliki Bang?

Prinsipnya yang harus dipegang, kita harus solution oriented. Kalo tidak kita pasti remuk. Karena apa, satu sisi kita mengatakan organisasi independen, namun ketergantungan dengan donor gak karu-karuan besarnya. Jadi harus selalu solusi oriented, bagaimana problem-problem itu dicari solusinya.

Kalau di NGO kebiasaan kita kan lebih banyak ke prosesnya dan lesson learn yang mau dikejar, tapi belum tentu ke solusi. Itu yang mau saya tambahkan. Sehingga dalam pelaksanaan organisasi cepat eksekusinya.

Secara tata kelola dan tata laksana organisasi yang baik, kira-kira apa yang menjadi titik krusialnya Bang?

Secara internal, misalnya kita bicara tentang personil/SDM, itu sering kali kita terjebak pada manajemen yang melihat bahwa perkembangan kapasitas manusia itu unlimited, padahal sebenarnya ada limit-nya. Kemudian kita harus mulai berpikir juga bagaimana setiap orang selalu antusias, punya harapan di dalam setiap pekerjaannya. Itu jadi tantangan sendiri.

Selain itu yang harus kita ingat, kekuatan organisasi seperti kita ini adalah manusianya. Kebanyakan manajemen Sumber Daya Manusia yang ada tidak terlalu baik, sehingga mudah sekali turn off-nya.

Kalau tidak, itu lebih karena hubungan personal. Saya punya pengalaman tidak satu-dua kali di situ. Ternyata kerjaan bisa jalan karena aspek personal, tapi ketika didudukkan dalam sistem hasilnya macet. Makanya, kenapa tiba-tiba ganti Direkturnya, kadang-kadang pada check out semua, merasa insecurity. Padahal seharusnya sistem itu harus menjamin.

Berikutnya adalah soal tata kelola manajemen pengetahuannya yang buruk. Untungnya kebanyakan di kita itu hanya karena rajin-rajin aja berkomunikasi. Jadi emang tools-nya ngobrol. “Nah, kalau sudah buruk ngelola orangnya, pengetahuannya juga nempel di orang, terus orangnya cabut.. wassalam organisasinya”.

Jadi, nilai ideal sebuah organisasi bukanlah suatu kepatenan, bukanlah sebuah rumus yang apabila dilaksanakan hasilnya sudah pasti sama. Namun, nilai ideal organisasi disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang ada di organisasi. Karena kondisi tiap-tiap organisasi berbeda, maka kebutuhannya pun akan berbeda, dan solusi untuk memecahkan masalah organisasi juga akan berbeda. (KAN)