Organisasi boleh ditelurkan dari gagasan satu orang, tapi pelaksanaanya harus kolektif bukan? Begitulah kira-kira esensi dari organisasi. Karena sebuah organisasi diciptakan memang untuk mencapai tujuan yang tidak bisa dicapai sendirian.

Dida SuwaridaPerbincangan siang itu (23/5) berlangsung di Ruang Kemuning, ruang pelatihan utama Penabulu Alliance. Di tempat itu, kami berbincang dengan Dida Suwarida, perempuan yang aktif dalam persoalan hak asasi perempuan, sempat tercatat sebagai Koordinator Keuangan Komnas Perempuan, Board Penabulu Alliance, dan segudang pengalaman lainnya dalam dunia Organisasi Masyarakat Sipil, berikut perbincangan kami:

Bagaimana Mbak Dida melihat tata kelola dan tata laksana organisasi nirlaba yang memadai?

Artinya dari semua sisi ya? Sama saja aku pikir, seperti kebanyakan organisasi pada umumnya. Cuma yang jadi kelemahan di teman-teman itu adalah ketika mereka membangun sebuah organisasi, isi dari organisasi itu hanya ada di kepala satu orang. Apalagi untuk organisasi lokal, tentang struktur, budget, atau apapun, yang mengerti ya di satu orang itu. Realita sebenarnya seperti itu.

Lalu, bagaimana menyikapinya Mbak?

Seharusnya ada backup ketika satu orang itu tidak hadir, yang lain juga bisa menjadi representasi lembaga. Menurutku, yang harus dikuatkan ketika kita berbicara tata kelola sebuah lembaga adalah bagaimana semua orang di dalam lembaga bisa merepresentasikan organisasinya. Kalau itu sudah tumbuh, ketika kita membangun mekanisme atau sistem prosedur, “tiang-tiangnya” akan sudah ada, dan bukan hanya tersimpan di satu orang. Boleh-boleh saja pengetahuan lembaga ada di satu orang, asalkan dia bisa empowering sekitarnya. Hanya kebanyakan pemimpin lupa, jadi dia berperan sendirian saja.Jadi, antara si decision maker dan bawahannya itu sangat jauh gap-nya, baik dari sisi pengetahuan, link, atau apapun itu jauh sekali.

Kok bisa seperti itu Mbak? Lost-nya dimana kira-kira?

Bisa jadi itu bagian dari egonya si pemimpin. Dia ingin eksis gitu ya, dan agak keberatan untuk melepaskan eksistensinya, atau untuk membagi sedikit saja dengan timnya.

Selain itu, kadang-kadang “si bos” ini juga takut ketika membagikan informasi, pengetahuan dan wewenang ke orang lain. Alasan takutnya macam-macam sih, dimulai dari takut berantakan, tidak bisa jalan organisasinya, dan banyak lagi. Cuma bila tidak dimulai dari sekarang akan selalu begitu.

Jadi, menurut Mbak Dida organisasi nirlaba yang memadai itu seperti apa?

Kalo menurutku, organisasi nirlaba yang memadai itu jika organisasi sudah mamiliki konsep soal sustainability. Karena bentuk organisasinya nirlaba, dia berharap darimana kalau tidak dari pengembangan untuk keberlangsungan lembaganya sendiri. Jadi organisasi harus mengupayakan daya dan upaya agar lembaganya tetap berlangsung. Kalau organisasi sudah punya konsep sustainability, maka dengan sendirinya akan membereskan tata kelola, manajemen, dan lain-lain. (KAN)