Senin itu (26/5), kami bergeser sedikit dari markas kami di Pasar Minggu ke Jalan TB Simatupang yang berjarak 15 menit berkendara dengan motor. Kali ini kami mengunjungi World Wide Fund (WWF) Indonesia di Gedung Graha Simatupang.

Desmarita MurniKami berjumpa dengan Desmarita Murni, Public Relation Manager WWF untuk berbincang mengenai publikasi, komunikasi dan kemitraan organisasi nirlaba. Berikut petikan obrolan kami dengan perempuan ramah ini.

Kenapa aspek publikasi, komunikasi dan kemitraan itu menjadi penting Mbak Desma?

Kalo menurut saya, dalam project atau organisasi apapun, besar atau kecil organisasinya, aspek komunikasi itu tidak bisa ditiadakan. Karena keberhasilan, tantangan, ataupun lesson learn yang dihadapi atau dimiliki oleh program itu, harus terkomunikasikan. Mungkin pelaku bukan staf komunikasi, tetapi aspek komunikasi itu harus menjadi satu tanggung jawab. Jadi fungsi komunikasi selalu ada di level manapun. Misalnya, di organisasi orangnya sedikit sehingga tidak memungkinkan untuk mempunyai staff komunikasi, tetapi menurut saya fungsi itu harus ada di dalam job apapun.

Secara umum kan kebutuhannya untuk mengkomunikasikan pencapaian, lesson learn, pengalaman-pengalaman baik atau buruk, juga tantangan-tantangan yang ditemui. Kalau itu tidak ada kan putus informasinya, yang paling utama untuk ke publik. Jadi menurut saya komunikasi bukan hanya perlu, tapi fardhu ‘ain hukumnya kalau ingin tujuannya tercapai dengan baik.

Lalu, bagaimana tahapan implementasinya?

Awalnya ada assessment terlebih dulu. Setelah asessment, kita jadi tahu target audience-nya siapa, objeknya apa, apa yang mau dicapai dalam program ini, tantangannya, ancamannya, siapa yang bisa menjadi sekutu.

Nah sesudah itu buat strategi dari daftar tadi, mana yang menjadi prioritas. Dari strategi itu kita akan tahu juga akan memakai tools apa dan mana yang lebih efektif untuk digunakan. Jadi, ketahui dulu tujuannya, target audiancenya kemudian baru tahu toolsnya apa yang mau dipakai.

Misalnya, kalau di desa ya tidak usah memakai internet. Mungkin lebih bagus bikin pertemuan kampung atau apalah yang lebih mendekatkan antar kita dengan target audience. Mungkin kalau komunikasinya dengan ibu-ibu akan lain pola komunikasi yang digunakan dengan bapak-bapak. Pilihan waktunya juga beda, kalau ibu-ibu nanti setelah beres kerjaan baru membuat acara. Kalau tidak nanti ibu-ibu gak ada yang dateng. Mungkin seperti itulah.

Kalau menurut Mbak Desma, bagaimana seharusnya organisasi bersikap dalam aspek itu?

Secara umumnya ya, LSM itu kan harus akuntabel dari segala sisi. Contohnya saja WWF, kita kan menggalang dana, mengumpulkan donasi dari publik, jadi kita punya kewajiban untuk menginformasikan uang itu kemana kepada donatur dan supporter. Mungkin mereka tidak menanyakan sih, tapi kita wajib memberi informasi itu dalam bentuk apapun. Itu bentuk akuntabilitas kita pada publik. Menurutku, semua organisasi nonprovit mestinya bisa melakukan itu, karena itu esensi. Paling tidak ada di website-nya.

Biasanya orang nanya kalau sudah ada masalah, tapi sebaiknya sebelum ada masalah itu sudah kita kasih tahu. Kita beri tahu juga programnya apa saja, bergerak dimana dan itu bentuk informasi bahwa kita itu tidak sembunyi-sembunyi. Karena kan sekarang organisasi yang bagus ada, yang tidak bagus juga ada. Mungkin sebenarnya bagus, tapi tidak cukup terbuka, jadi orang masih ragu-ragu. Informasi publik akan membantu orang untuk menghilangkan keraguan. Menurutku itu hal yang esensi. Kalo donor paling nanyain ini uangnya habis kemana gitu kan.

Jadi, apa tantangannya untuk melakukan itu Mbak Desma?

Nah itu, kadang kita sudah sibuk dengan beragam program, sehingga banyak yang tidak terkomunikasikan. Mungkin sebenarnya baik tujuannya, tetapi karena berbagai kesibukan dan orangnya sedikit, itu jadi kelemahan. Saya lihat sih banyak teman-teman yang punya semangat juang tinggi tapi sayangnya tidak terkomunikasikan. Karena sibuk dengan day to day saja. (KAN)