Pagi itu (19/5) saya janjian dengan partner saya, Tino Yosepyn, di seputaran Kebayoran Baru, tepatnya di Kantor Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI). Kami berencana bertemu dengan Inang Winarso, Direktur Eksekutif PKBI Pusat, untuk mewawancarainya terkait  tools yang sedang kami bangun, PERANTI. Pukul 08.45 WIB, saya sampai tujuan dan ternyata Tino sudah menunggu di Pos Petugas Satpam. Tak berapa lama, kami masuk ke gedung untuk langsung bertemu dengan “sasaran” kami.

Nanang MunadjatSetelah menunggu, kami dipersilahkan menuju ruang Direktur, namun Bapak Inang tidak berada di tempat hari itu, karena mendadak harus menghadiri sebuah pertemuan. Namun sebagai gantinya, kami ditemani oleh Bapak Nanang Munadjat, Wakil Direktur Eksekutif.

Perbincangan dibuka Tino Yosepyn, setelah perlengkapan tempur kami (alat tulis dan perekam suara) keluar dari sarungnya. Tanya jawab yang awalnya kaku perlahan-lahan berangsur santai, layaknya ngobrol. Esensinya pun mulai muncul, “kalau soal sumber daya manusianya gak perlu dibahas ya, biasanya LSM itu orangnya militan, public speaking-nya bagus, rata-rata begitu”, Nanang Munadjat berkata. Karenanya, aspek keuangan itulah yang masih menjadi soal, agar LSM tak terstempel penyerap uang donor saja. “Gimana Pak Hadi?”, tanya Nanang Munajat.

“LSM harus mandiri lah”, jawab Hadi Prayitno, yang sempat menemani diskusi kami sebentar dan juga seseorang yang sudah expert dalam bidang pengelolaan keuangan organisasi nirlaba. Menurut dirinya, LSM semestinya mempunyai unit usaha dan program yang menjadi sumber penggalangan sumber daya. “Kalau donor selesai, biar gak kalang kabut kita”, tambahnya.

Kacang telur dan teh manis hangat menemani perbincangan pagi yang menjelang siang waktu itu. Kemudian Nanang Munadjat kembali memberi penjelasan, “Jadi, ada dua kategori indikator mandiri, sustainability dan kemandirian”.  Sustainability –keberlanjutan, artinya setiap program mempunyai cost recovery, dan dapat menghasilkan income serta dapat  diteruskan untuk jangka panjang.

Sedangkan kemandirian terkait dengan pendanaan internal. Artinya, lembaga sudah mampu memenuhi over head cost–gaji dasar pegawai, biaya operasional, dan lain-lain. “Jadi, namanya mandiri bukan berarti semua dananya dari diri sendiri, itu mah perusahaan namanya. Kalau LSM itu minimal over head cost-nya sudah terpenuhi, programnya sudah bermitra dengan yang lain, menurut saya itu sudah mandiri”, simpul Pak Nanang menutup diskusi hangat kami. (KAN)