Tempat kami melakukan sesi tanya jawab kali ini sedikit berbeda, sedikit lebih tinggi tepatnya, di lantai 23 Gedung Tempo Scan, Jakarta Selatan. Topik obrolannya adalah tentang pengelolaan sumber daya manusia. Selama ini, fenomena “keluar-masuk” orang di dalam LSM adalah hal yang mungkin dianggap biasa. Sedikit berbeda dengan dengan pengelolaan SDM organisasi profit yang mungkin lebih serius. Jadi, gentingkah manajemen SDM di dalam LSM?

Ageng PriantoDalam kesempatan ini kami bertemu dengan Ageng Prianto, yang lebih familiar dipanggil “Agee”. Seorang pria yang aktif dalam Klub Indonesia Hijau (KIH) dan mempunyai pengalaman segudang dalam bidang human resouces management. Saat ini dirinya menjabat sebagai Human Resources Management Consultant di Indonesian Psychology Practitioner Foundation dan Talent Manager di GroupM, sebuah advertising agency.

Dalam ruangan yang cukup semeriwing itu, kami bertanya akan seberapa pentingkah pengelolaan sumber daya manusia bagi organisasi nirlaba. Dengan hangat pria ini menjawab, “Harusnya sih urgent, mereka harus sudah melek tentang manajemen SDM kalau mau berkompetisi dengan organisasi nirlaba lainnya. Kalau gak, akan terus dilihat sebelah mata saja”. “Tapi persoalannya..” ia mencoba melanjutkan kembali, “sekarang kan orang lebih aware untuk mencari uang itu bagaimana, nyari uang aja susah, boro-boro mikirin SDM-nya”.

HR CYCLE“Sebenarnya secara teoritis ilmunya sudah ada. Pengalaman teman-teman juga sudah banyak. Tinggal dikombinasi aja antara experience dan knowledge. Itu sudah menjadi suatu yang luar biasa” terangnya sembari mencorat-coret papan tulis di hadapannya. Ia kembali melanjutkan, “kalau mau dimulai, hal yang sama pada organisasi profit pun bisa dilakukan pada NGO. Kita bisa mapping dulu…oh ternyata irisannya di sini, misalnya. Ini yang kita adopsi”.

“Banyak tools yang diadopsi mentah-mentah dari luar dan kulturnya tidak sesuai dengan Indonesia. Tetapi hal itu bisa kita built in, antara knowledge yang ada di sana dengan nilai-nilai yang ada di sini”, dirinya menerangkan. “Cuman lagi-lagi persoalannya: mau gak?”, lanjutnya yang masih berdiri di depan papan tulis.

“Eh, mau minum apa?” suaranya memecah perhatian kami pada penjelasan barusan. Rasanya kopi dan teh memang cukup cocok di ruangan adem ini. (KAN)