Ungkapan penyair legendaris Chairil Anwar itu bisa menjadi pecutan dalam hidup manusia yang memang hanya sekali. Ungkapan itu juga menyentuh bagi dari para pelaku Organisasi Masyarakat Sipil (OMS), yang menyebut dirinya sebagai aktifis atau relawan. Dibalik sebutan yang disandangnya itu, ada sebuah pertanyaan yang cukup mendasar: “Apa mereka memaknai betul identitasnya itu dalam tiap kesibukkan mereka yang berjubel?”.

Siang hari yang menjelang sore itu, kami menyempatkan diri untuk berbincang dengan Fakhrizal Nashr, Program Development and Learning di The Nature Conservancy (TNC), sebuah organisasi sosial internasional yang bergerak dalam bidang konservasi lingkungan. Berikut penjelasan akan keberadaan organisasi masyarakat sipil dari pria lulusan Master Degree Forest Resources Management di Swedish University of Agriculture Science ini:

“Jadi saya melihatnya, sebuah organisasi pasti terdiri dari tiga komponen: melakukan apa (to do), menjadi apa (to be), dan berhubungan dengan apa (to relate). To do ini kadang-kadang melupakan dua komponen besar yang lain. Sering kali saya merasa teman-teman hampa di komponen to be-nya. Sehingga perjuangan-perjuangan organisasi tidak sampai di tataran idealismenya.

Di dalam sebuah organisasi, ketika to be-nya tidak terlalu kuat, maka teman-teman hanya akan tergantung dalam ikatan keproyekkan. Yang kadang-kadang ujungnya akan sangat pragmatikal. Tapi, ketika to be-nya kuat, teman-teman melakukan to do-nya akan dengan sepenuh hati.

Aspek yang ketiga, adalah aspek bagaimana organisasi berhubungan dengan orang lain atau kemitraan (to relate).

Nah, ketiga aspek ini satu sama lain harus dipikirkan dari awal. Tetapi to be inilah yang menjadi landasan, reason of being, yang harus dijawab oleh organisasi baru. Ketika ini tidak dijawab, biasanya umur organisasi tidak akan berlangsung lama. Adapun sepragmatis-pragmatisnya, hanya menjadi tempat bekerja saja, scholar for dollar.

Buat saya, memang bagian to be ini sangat penting. “Karena nilai hidup cuma sekali”, itu yang saya bilang kepada teman-teman lokal. Sehingga mereka sendiri mengerti kebermanfaatan akan kehadirannya. Bukan hanya melakukan saja”. (KAN)